Bagi dunia modern, membayangkan sebuah benda berbahan perunggu atau kuningan tua dapat melangkah, makan, atau bahkan berubah wujud mungkin terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Namun, di timur Pulau Alor—tepatnya saat menjejakkan kaki di kawasan pegunungan Desa Maukuru, Alor Timur—garis pembatas antara realitas dan hal-hal gaib tidak pernah benar-benar ditarik tegas. Di sini, moko bukan sekadar drum logam peninggalan masa lampau atau alat pembayaran belis (mas kawin); bagi masyarakat adat, moko tertentu adalah entitas yang hidup.
Saat duduk bersama para sesepuh di beranda rumah panggung yang menghadap ke arah lembah, aroma tembakau dan angin pegunungan menyertai obrolan kami tentang rahasia yang disimpan rapat selama ratusan tahun. Salah seorang pemburu dan saksi hidup tradisi, menatap ke arah perbukitan kampung lama sebelum mulai mengisahkan pengalaman mistis yang dialaminya secara langsung.
“Dia Makannya Padi, Minumnya Darah Ayam”
Di sudut gudang pusaka kampung lama, tersimpan moko keramat yang keberadaannya dijaga secara turun-temurun. Berbeda dengan moko biasa yang diperjualbelikan untuk urusan adat perkawinan, moko satu ini memiliki tabiat layaknya makhluk bernyawa.
“Kalau moko yang bergerak itu ada di kampung lama, dia makannya padi. Jadi isi padi di dalam bakul, bawa taruh di dekatnya. Entah bagaimana cara makannya, tapi beras dan padinya bisa habis. Dan kalau dia haus, bukan air atau daging ayam yang diminta, tetapi darah ayam yang disiram langsung ke atas badannya,” tutur sang tetua adat dengan nada berbisik.
Perawatan moko ini menuntut kepatuhan mutlak. Jika para penjaganya lalai menggelar ritual—membakar ayam, memercikkan darahnya ke badan moko, lalu melumasi permukaannya dengan minyak kelapa agar tetap licin dan mengilap—benda keramat ini akan menunjukkan kemurkaannya.
Ketika Malam Tiba: Cahaya Neon dan Denting Anak Panah
Saat moko tersebut marah karena ritualnya diabaikan, ia tidak lagi berdiam diri di sudut ruangan. Orang-orang yang tidur bersama di dalam gudang penyimpanan akan merasakan hembusan dingin dan sensasi seperti ada sosok yang melangkah keluar melintasi pintu.
Bukan fisik logamnya yang menggelinding, melainkan jin atau entitas gaib penunggunya yang menjelma menjadi wujud manusia atau sosok lain yang berkeliaran hingga ke kebun-kebun warga.
Warga sering melihat penampakannya di tengah pekatnya malam berupa kilatan cahaya seperti lampu neon yang melayang perlahan di antara pepohonan. Pengalaman para pemburu malam pun tak kalah ganjil.
“Ada warga yang pergi memanah babi hutan di kebun pada malam hari. Saat anak panah dilepaskan dan mengenai sasaran, bunyinya bukan suara daging, melainkan denting keras seperti menabrak lempengan besi: ‘Trang!’. Besok paginya ketika dicek di gudang, benar saja, moko kuningan itu memiliki bekas goresan baru dari ujung mata panah.”
Bahkan di dalam ruangan, langkah moko ini terasa begitu nyata dan kasar. Tetua adat menceritakan bagaimana mereka harus menarik kaki mereka saat tidur di dekat pusaka tersebut. Salah sedikit meletakkan posisi kaki, seseorang bisa merasakan kakinya terinjak benda yang luar biasa berat, seolah baru saja ditabrak oleh bongkahan logam yang sedang melintas.
Penjaga Kampung yang Menolak Dipindahkan
Kekuatan magis moko di kampung lama ini begitu kuat mengikat alam sekitarnya. Di masa lalu, ketika permukiman mulai meluas ke wilayah pesisir pantai, ada upaya untuk membawa turun pusaka ini. Namun, alam langsung memberikan penolakan keras.
Setiap kali moko keramat dipindahkan keluar tanpa izin ritual atau tanpa sepengetahuan para pemangku adat, bencana mendadak menghantam desa: angin ribut bertiup kencang, badai hujan melanda, dan ketenteraman warga terusik hingga moko tersebut dikembalikan ke tempat asalnya di atas gunung.
Tak hanya ancaman bencana alam, sanksi gaib bagi siapa pun yang berani lancang membawanya keluar kampung sangatlah fatal. Mereka yang mencoba mengambil atau melanggar pantangannya konon berumur pendek. Jika pelanggarnya sudah berkeluarga, keturunannya bisa terputus; kehamilan sang istri bisa tiba-tiba lenyap tanpa bekas medis sebagai wujud “tumbal” kemarahan sang penjaga gaib.
Kini, dari empat moko utama yang memiliki ikatan tradisi, tiga moko telah berada di wilayah pesisir pantai, namun moko yang paling keramat tetap kokoh bertahan di kampung lama. Ia menjadi “orang tua penjaga kampung”—berdiri dalam diam, menatap pergantian zaman, dan menjaga agar akar tradisi para leluhur tidak pernah tercerabut dari tanah Alor.