Saya pernah berjalan sejauh ini.
Awalnya, saya mengira perjalanan ini hanyalah sebuah proses untuk menjawab pertanyaan yang ada di kepala saya demi mencapai satu tujuan penelitian. Mencari data, melakukan wawancara, menulisnya dalam sebuah laporan biasa saja, tidak ada yang spesial. Dari Kupang, perjalanan itu dimulai tepatnya pada April 2026. Kesempatan kedua ke Bumi Kenari membuat sesuatu yang begitu menggebu ingin segera dikeluarkan. Perjalanan ini perlahan berubah menjadi pengalaman yang menyimpan banyak cerita.
Di setiap tempat yang dikunjungi, selalu ada kenangan yang tertinggal. Percakapan-percakapan sederhana pada akhirnya menjadi kepingan penting dalam penelitian. Ada wajah yang sebelumnya tidak pernah dikenal, namun dengan tulus berbagi cerita. Ada perjalanan panjang yang melelahkan, kadang cuaca yang tidak bersahabat, waktu yang terkadang terasa singkat, serta berbagai fenomena kecil yang mungkin saat itu terasa biasa saja, tapi kini justru menjadi bagian yang paling ingin dikenang.
Masih teringat bagaimana rasanya saat pertama kali berangkat ke Alor. Ada rasa bersemangat, tetapi juga sedikit gugup. Maklum, kali ini ke Alor bukan berlibur lagi tujuannya, melainkan bekerja. Di perjalanan, pikiran saya bukan hanya dipenuhi pertanyaan tentang apa yang diteliti, melainkan juga berbagai pertanyaan: apakah saya akan diterima dengan baik? Apakah saya bisa bersosialisasi dengan orang Alor? Apakah saya akan cocok dengan makanannya? Bahkan hal-hal kecil pun sempat menjadi kekhawatiran saya.
Tetapi ternyata banyak hal di lapangan di luar ekspektasi saya.
Benar saja, perjalanan yang harus ditempuh lebih dari yang dibayangkan. Ada saja waktu yang dihabiskan dengan menunggu. Ada rencana yang berubah sekian detik karena keadaan. Ada hari saat tubuh terasa lelah, tetapi penelitian tetap harus dilanjutkan. Kadang bingung harus mulai dari mana jika jenuh. Namun, pada akhirnya saya belajar bahwa meneliti sebuah hal yang saya cintai ini tidak selalu tentang menemukan yang sempurna. Saya hampir saja lupa bahwa penelitian telah mengajarkan saya untuk beradaptasi dengan keadaan.
Penelitian bagi saya bukan sekadar mendapatkan data berupa angka, catatan, hasil observasi atau hasil wawancara. Di balik setiap data, ada manusia dengan pengalaman, harapan, perjuangan, dan cerita hidup masing-masing. Karena itu, perjalanan ke Alor ini bukan sekadar tentang mencari jawaban atas pertanyaan penelitian tentang Moko, sebuah logam tua, tetapi juga tentang belajar mendengar, memahami, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Kini, ketika perjalanan itu perlahan sampai pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya hasil penelitian tentang Moko. Terdapat kenangan tentang perjalanan panjang, tempat-tempat yang pernah disinggahi untuk mencari kisah Moko, percakapan tentang Moko yang pernah terjadi, tawa di sela-sela kesibukan mengamati ‘si logam tua’, rasa lelah yang pernah dirasakan, dan orang-orang yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari cerita ini.
Nanti, ketika penelitian ini hanya tinggal sebuah dokumen yang tersimpan di rak atau folder laptop, kenangan tentang perjalanannya akan tetap hidup. Sebab pada akhirnya, penelitian di Alor bukan hanya tentang apa yang ditemukan, tetapi juga tentang apa yang saya rasakan dan siapa diri saya setelah melewati seluruh prosesnya.
Dan jika suatu saat nanti saya kembali mengingat perjalanan ini, saya ingin mengingatnya bukan sebagai perjalanan yang sempurna, melainkan sebagai perjalanan yang pernah membuat saya lelah, belajar, bertumbuh, dan pada akhirnya tersenyum karena pernah menjalaninya.
Hampir saja saya lupa, untungnya tidak. Perjalanan penelitian penuh kenangan ini tidak saya lakukan sendiri, tetapi bersama mereka yang dengan bangga saya sebut tim solid.
Bersama mereka selama 10 hari di Alor menjadikan mereka keluarga baru bagi saya. Semoga kerja keras kita berbuah manis guys.
Akhirnya, beberapa perjalanan memang tidak hanya menuntun sampai ke tujuan; ada yang sengaja hadir untuk meninggalkan kenangan. Saya yakin perjalanan kenangan dari Kupang ke Alor ini menjadi metanoia bagi refleksi hidup saya hingga nanti milyaran eunoia pun selalu tercipta dan positive vibes itu ada.
Di meja kerja. Kupang, September 2026
Henny Lada